in

Narasi Kewiraan nan Menyemangati

Alumnus HMI Cabang Palu dan FISIP Untad Palu serta Pembina Indonesia Care, Iqbal Setyarso. Foto Media Alkhairaat
Alumnus HMI Cabang Palu dan FISIP Untad Palu serta Pembina Indonesia Care, Iqbal Setyarso. Foto Media Alkhairaat

Oleh Iqbal Setyarso, Alumnus HMI Cabang Palu dan FISIP Universitas Tadulako Palu serta Penasihat Indonesia Care

Yogyakarta memang sarat percikan kewiraan. Ada tiga narasi kewiraan negeri ini. Narasi pertama, peristiwa bertarikh 23 Juli 1947 atau bertepatan 17 Ramadan 1366, diceritakan ulama Yogyakarta tengah bermusyawarah sehabis salat Lail dan iktikaf, bermunajat kepada Allah Swt di Masjid Taqwa, Jalan Suronatan, Yogyakarta. Hasil pertemuan itu, ulama bertekad membentuk badan perjuangan dengan nama Markas Ulama Angkatan Perang Sabil (MUAPS), disebut ringkas Angkatan Perang Sabil.

Badan perjuangan ini bertujuan membantu pemerintah RI dalam menghadapi kesulitan menanggulangi musuh yang akan merobohkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Para ulama itu mengutus Ki Bagus Hadi Kusuma, KH Mahfud Siraj, dan KH Ahmad Badawi untuk menyampaikan kebulatan tekad ulama Yogyakarta ke hadapan Sri Sultan Hamengku Buwana IX. Maksud kebulatan tekad itu disambut baik, yang kemudian Sri Sultan mengeluarkan keputusan persetujuan doa restunya sekaligus menghubungkannya dengan Panglima Besar Sudirman.

Narasi kedua, bertarikh 5 Februari 1947, bertepatan 14 Rabiualawal 1366. Atas prakarsa Lafran Pane bersama 14 kawannya mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (yang kemudian menjadi Universitas Islam Indonesia/UII), berdiri organisasi mahasiswa. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi mahasiswa yang didirikan di Yogyakarta. Semangat pendiriannya dilandasi tujuan terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernapaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridai Allah Swt.

HMI merupakan organisasi kemahasiswaan, perkaderan, dan perjuangan. Kekayaan HMI adalah gagasan dan intelektualitas kader-kadernya. “Kekayaan gagasannya menjadi intangible assets”, salah satunya ditunjukkan dengan kontribusi konkretnya dalam berpartisipasi di berbagai bidang kehidupan, termasuk partisipasi kader-kader terbaiknya di pemerintahan dan instansi. Sejumlah figur publik yang amat dikenal, termasuk beberapa tokoh yang telah tiada, menorehkan catatan emas dalam pengabdiannya bagi Indonesia dan dunia.

Narasi ketiga, Diponegoro–culture hero Tanah Jawa yang amat fenomenal. Namanya masyhur. Mujahid yang Sultan Ngabdul Hamid Sani Erucakra kabirul mukminin sayyidin panatagama Rasulillah sallallahu alaihi wasallam ing tanah Jawa. Orang alim nan salih ini memiliki orang kepercayaan, Sentot Ali Basya, juga seorang guru, Kiai Modjo. Dikitari orang-orang ikhlas, kewiraannya dilakoni hingga ajal menjemput. Pada kemudian hari, Diponegoro mengimami perang sabil (perang Jawa) yang menguras keuangan penjajah Belanda.

Di pihak Belanda, tentara pribumi maupun orang Belanda, tewas tidak kurang 15.000 jiwa, sementara di pihak orang Jawa syahid tidak kurang dari 200.000 jiwa. Jumlah dana yang dihabiskan mencapai 20.000.000 gulden, angka yang sangat besar pengabdian ketika itu. Kepada Diponegoro, konon rakyat Belgia–yang dulu dikuasai Belanda–berterima kasih karena secara tidak langsung Belgia merdeka dari Belanda gara-gara ekonomi Belanda morat-marit. Narasi kewiraan Diponegoro menjadi inspirasi berkelanjutan bahkan setelah Indonesia merdeka.

Baca Juga :  Kerasnya Bang Harry adalah Kelembutan

Urgensi Merawat Narasi
Merawat narasi sama sekali jauh dari tendensi unjuk kejemawaan diri. Satu sisi, dalam diri kita sebagai anak bangsa ada sepercik kewiraan, sebuah elan kejuangan dengan itu kita mewarnai kehidupan. Di sisi lainnya, ada semangat “menjadi” dan maujud kebaikan untuk sesama dengan itu kita memiliki makna. Kejuangan dan kebermaknaan menjadi alasan eksistensi kita dalam kehidupan. Pertanyaan substansial bermunculan, siapakah kita? Dari mana kita? Siapa pencipta kita? Ke mana kita akan kembali setelah kehidupan ini? Serangkaian pertanyaan itu diringkas Syaikh Yusuf Qaradhawi dengan tiga pertanyaan mendasar, dari mana saya? Mau ke mana saya? Kenapa saya diciptakan? Ketiga pertanyaan itu diuraikan demikian oleh fukaha.

Pertama, dari mana kita berasal? Pertanyaaan ini sangat bermasalah bagi kelompok materialisme yang tidak beriman kecuali pada hal-hal yang bisa dilihat dan diraba. Mereka tidak peduli panggilan fitrahnya. Mereka mengagung-agungkan akalnya yang pada akhirnya mereka dalam kebutaan yang mendalam sehingga mereka mengatakan, bahwa alam dan seisinya, yang penataannya penuh dengan keindahan, terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan.

Berbeda dengan mereka yang peduli dan memperhatikan panggilan suara fitrahnya. Mereka menegaskan, bahwa di balik keindahan alam dan seisinya ini ada Allah yang menciptakan, mengatur, dan menjaganya. Dan kepada Allah, hati nurani manusia berhubungan dengan penuh pengagungan, harapan, tawakal, dan pertolongan. Hal itulah yang mereka rasakan dalam hati nurani mereka dengan secara mendasar. Dan inilah agama Allah yang disinyalir dalam Al-Qur’an Surat Ar-Ruum sebagai berikut yang artinya, “Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama [Allah]; [tetaplah atas] fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. [Itulah] agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar-Ruum: 30)

Tak dapat dipungkiri bahwa panggilan fitrah itu berada dan berbisik dalam diri manusia baik dalam keadaan senang maupun susah. Buktinya, ketika ia mengalami suatu kejadian yang terus-menerus, takut kembali pada kejadian yang menakutkan dan harapannya dikecewakan oleh manusia sekitarnya, maka saat itulah panggilan suara fitrah itu menjerit-jerit, mengadu kepada Sang Pemilik Segala Alam.

Suatu ketika, ada seorang bertanya kepada Ja’far al-Shodiq RA tentang eksistensi Allah. Seorang itu mengakatakan, “Apakah kamu pernah mengendarai perahu?” Ja’far al-Shodiq RA menjawab, “Ya”. Kemudian, seorang itu bertanya lagi, “Apakah pernah terlintas dalam benak Anda, bagaimana andai kata perahu yang Anda tumpangi ini diserbu angin besar, kemudian terbalik, sementara pada saat itu tidak ada cara atau seseorang yang dapat menolongnya?” Dia menjawab, “Ya”. Terus, pertanyaan terakhir yang dilontarkan seorang itu adalah, “Apakah Anda merasa saat itu akan ada Zat yang dapat menolongmu jika ia berkehendak?” Dijawab oleh Ja’far al-shodiq RA, “Betul”. “Nah, itulah Allah,” cetus seorang itu.

Baca Juga :  Eddy Boekoesoe, Hasrat Memberdayakan Masjid

Kenyataan di atas telah diperkuat oleh beberapa ayat Al-Qur’an, di antaranya adalah Surat Az-Zumar, yang artinya, “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudaratan, dia memohon [pertolongan] kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya.” (Az-Zumar: 8)

Kedua, mau ke mana manusia setelah mati? Pada pertanyaan yang kedua pun kelompok materialisme juga menyalahkan dan berusaha untuk menjawab dengan jawaban yang merendahkan dan membuat manusia hina. Dengan gampangnya mereka mengatakan, perjalanan manusia berakhir sesuai dengan akhir hidupnya. Dia akan kembali lagi ke asalnya menjadi debu yang berterbangan dibawa angin tanpa ada konsekuensi selanjutnya.

Bagi mereka yang beriman, mereka tahu akan kembali ke mana, mereka sadar bahwa mereka tidak diciptakan bukan untuk dunia, tetapi mereka mengerti betul jika dunia itu diciptakan untuknya. Dan lebih dari itu, sampai pada akhir pemahaman dan kesimpulan bahwa mereka diciptakan untuk kehidupan abadi (akhirat), sementara hidup di dunia ini cuma sebagai ladang persiapan untuk dijadikan bekal menuju ke sana, sampai akhirnya mereka menyandang kalung yang bertuliskan salamun alaikum, tibtum fadkhuluha kholidiina. (QS Az-Zumar: 73)

Sulit bagi akal yang kotor memercayai dan mengimani Sang Pencipta yang menciptakan alam ini dengan penuh penataan yang sangat indah sekali jika masih memercayai bahwa kehidupan ini akan berakhir dengan kefanaan. Jika masih mengimani bawa tak akan ada tangan Tuhan yang akan membalas orang-orang yang sukanya mencuri, merampok, mencopet, dan membuat kerusakan yang lainnya dan juga tak ditemukan pertolongan Allah bagi orang-orang yang lemah dan terzalimi. Hal ini adalah kesia-siaan dan mainan. Sementara, Allah jauh dan disucikan dari itu semua sesuai dengan firmannya yang artinya, “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja [tanpa pertanggung jawaban]?” (QS. Qiyamah: 36). Dan banyak lagi ayat yang menyinggung tentang hal ini.

Ketiga, kenapa manusia itu diciptakan? Pertanyaan ketiga inilah yang wajib manusia tanyakan setelah ia tahu tentang dirinya sebagai karya cipta dari sang pencipta Allah Azza wa Jalla. Kenapa ia diciptakan ke dunia ini? Kenapa ia dibedakan dari jumlah karya cipta yang lainnya? Dan apakah misi dan fungsi saya didunia ini? Jawabannya adalah bahwa setiap Pencipta pasti tahu tentang rahasia ciptaan-Nya dengan bentuknya yang berbeda-beda. Sedangkan Allah adalah satu-satunya Zat yang menciptakan, mengatur, dan menjaga manusia.

Baca Juga :  Jakarta Bertuan, Betawi Berperadaban

Kemudian, coba kita tanyakan, Ya, Allah, kenapa engkau menciptakan manusia? Apakah engkau menciptakannya untuk makan dan minum saja? Apakah engkau menciptakan-Nya hanya menjadi hiasan saja? Dan beberapa pertanyaan yang lainnya. Dengan halusnya Allah membantah semua pertanyaan itu dengan ayat yang artinya, “Ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’, mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.'” (SQ. Al-Baqarah: 30)

Ayat di atas sudah sangat jelas mengatakan, bahwa peranan, misi, dan fungsi manusia di dunia ini adalah sebagai khalifah yang ditugas langsung oleh Allah Azza wa Jalla. Namun, hal pertama yang perlu diperhatikan dengan tajam oleh manusia sebagai khalifah adalah mengetahui Tuhannya dan beribadah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh dan benar karena hal itu merupakan panggilan awal dari setiap risalah kenabian yang dikuatkan oleh firmannya yang artinya, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Jiwai Sejarah, Hikmati Anugerah-Nya
Kita syukuri Allah menganugarahkan memori, baik yang tertulis, terdata rapi pada zaman serba digital ini, atau “memori yang kita rekam dalam ingatan”. Semua kita jiwai, kita hikmati sebagai pemberian-Nya, anugerah-Nya agar kita menjadikannya pembelajaran, bukan sekadar sebagai bahan belajar tanpa efek keinsafan dan kesungguhan menyerapnya. Kalau itu sudah mengefek pada diri kita, insyaallah kita menuju proses menjadi hamba-Nya yang beruntung.

Artikel ini ingin mengajak diri kita, termasuk pribadi saya, menjiwai dan menghikmati, setidaknya bertolak dari tiga narasi kewiraan yang saya sampaikan ini: tentang HMI dan sekelumit kelahirannya, tentang Angkatan Perang Sabil, dan tentang mujahid besar bernama Diponegoro. Lokus ketiganya di Yogyakarta.

Kita bersama menanti, apakah narasi keempat itu lokusnya Palu? Kitalah penentunya, akan bagaimana kiprah kita sehingga Munas XI KAHMI nanti akan menorehkan sejarah atau hanya menjadi sejarah (saja)!

Sumber :

Fatah S

Berkarier di industri media sejak 2010 dan menjadi penulis buku.