in

Sulteng, UMKM, dan Pasar (Bagian 2)

Alumnus HMI Cabang Palu dan FISIP Universitas Tadulako serta Pembina Indonesia Care, Iqbal Setyarso. Dokumentasi pribadi
Alumnus HMI Cabang Palu dan FISIP Universitas Tadulako serta Pembina Indonesia Care, Iqbal Setyarso. Dokumentasi pribadi

Oleh Iqbal Setyarso, Alumnus HMI Cabang Palu dan FISIP Universitas Tadulako Palu serta Penasihat Indonesia Care

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai komunitas alumni banyak perguruan Indonesia–bahkan ada yang juga alumni perguruan tinggi asing–harus terpanggil untuk urun rembuk untuk berkontribusi konkret mengantisipasi problematika bangsa. Dari sejumlah ikhtiar itu, salah satunya berpikir membesarkan KAHMI Payment (K-Pay), platform yang tengah dirintis jemaah alumni HMI. Itu gagasan kekinian yang dirancang untuk ajang interaksi para entrepreneur alumni HMI. Di sini menjadi medium unjuk pengabdian di bidang kewirausahaan para kader. Saatnya HMI terjun dalam mengatasi permasalahan bangsa.

K-Pay, benar ia merupakan insiasi alumni HMI. Secara umum, K-Pay adalah e-wallet atau dompet digital layaknya LinkAja, DOKU, atau GoPay. Itu hanya medium transaksi digital. Secara fisiknya lebih pada aplikasi digital. Untuk masuk dalam konteks UMKM, sebenarnya masih terasa jauh. Ada sejumlah keterbatasan, terutama akses internet. Kondisi ini merupakan tantangan tersendiri. Tanpa akses internet, digitalisasi tak terjadi. Gagasan seindah apa pun tidak akan bekerja. Its not worked.

Contoh sederhana, akses terkendala sinyal saja, impian berinternet tidak terjadi. Saat kita membicarakan UMKM yang ada di pelosok desa, akses internet lancar saja masih impian. Internet dan akses komunikasi inilah kendala serius untuk mewujudkan cita-cita membangun ekonomi masyarakat. Membuka akses itu, ikhtiar penyelenggara negara untuk bisa mewujudkannya. Kewirausahaan yang diimpikan bisa terjadi, terkendala oleh ketiadaan akses internet. Komunitas sebesar apa pun perlu internet untuk bisa berinteraksi dan berkomunikasi. Tanpa itu, takkan ada transaksi apalagi pengembangan ekonomi rakyat.

Baca Juga :  Non-profit Wajib Merapat! Bantuan Senilai ±150jt Per Bulan Khusus Yayasan Non-profit

Problematikanya pada good will manusia pelaku usaha, good will untuk menyediakan akses internet hingga ke pesosok desa. Produksi harus terhubung dengan internet. Tanpa koneksi internet, bagaimana bisa menawarkan suatu produk? Tanpa mengenal produk, bagaimana hendak menjual? Kini sudah eranya digital, sebuah keniscayaan untuk bisa berkomunikasi satu sama lain melalui internet. Everybody internet things. Secara kolektif, komunitas alumn HMI harus mampu mewujudkan piranti internet. Sesudah itu terwujud, step berikutnya, masyarakat alumni HMI maupun komunitasnya didorong membentuk ekosistem entrepreneurship.

Inisiatif Membangun Ekosistem Enterpeneur
Wasilah mendasar entrepreneur adalah jaringan internet. Melalui internet, semua akan terhubung. Komando untuk saling bertransaksi otomatis terjadi. Tahapan teknisnya akan menyusul sebagai konsekuensi logis terbangunnya jaringan internat. Jelas ini inisiatif makro yang merupakan ranah pemerintah dalam mewujudkannya. E-business menjadi satu dengan e-government. Pada era ini, keniscayaan mewujudkan pola komunikasi serba digital. Semua pelayanan menggunakan internet, dari urusan keseharian (pemenuhan basic need) hingga administratif, dari medis hingga travelling. Maka, pemerintah–daerah dan pusat–yang melek internet akan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia.

Baca Juga :  Memulihkan Kekuatan Kader

Banyak hal telah tersedia secara simpel melalui internet. K-Pay mendapatkan berbagai layanan melalui internet. Membangun jarinan fisik internet, yang menjadi ranah pemerintah, demikian urgen demi menyukseskan komunikasi dan interaksi masyarakat entrepreneur. Transaksi bisnis mendatang dipastikan semakin digitalized. Sulit membayangkan kehidupan tanpa internet. Internet sudah “mengambil alih” kehidupan, semua serba melalui internet. Salah satunya, bisnis dan transaksi usaha. Menjadi keniscayaan mendorong pemerintah pusat dan daerah membuka akses internet seluas-luasnya.

Seakan di mana ada internet, di situlah manusia hidup. Maka, internet adalah kebutuhan pokok yang demikian urgen bagi kehidupan. Internet things adalah live style manusia modern. Manusia modern merupakan era internet things. Maka, salah satu piranti yang menjadi kunci sukses entrepreneur, melalui pemerintah, dibukalah akses internet seluas-luasnya. Step berikutya, K-Pay baru bisa dihadirkan sebagai wasilah, jembatan transaksi. Barulah bisa berlangsung transaksi usaha, dan itu semua akan mudah dan sederhana, baik dari sisi proses maupun teknis.

Baca Juga :  Lebaran Kaum Proletar

Pemerintah yang melek internet akan menyegerakan membangun jaringan komunikasi internat karena itu sekaligus memudahkan masyarakat memperolah kesempatan berusaha borderline, lintas negara. Banyak proses dimudahkan, banyak tahapan kerja yang kian mungkin disederhanakan. K-Pay sendiri hanya butuh good will untuk diaktivasi. K-Pay digerakkan dengan inisiatif, K-Pay secara instan bisa dibangun sebagai ekosistem bisnis, dan wahana entrepreneur saling bertransaksi. Internet memudahkan proses transaksi usaha lintas negara. Ekpor-impor di dunia maya nyaris tidak terlacak, termasuk pengiriman uang dan barang lintas negara, juga telah semakin mudah.

Internet memudahkan proses, internet memangkas birokrasi. Manipulasi kekinian juga semakin hebat, kejahatan cyber (cyber crime) juga memicu pengembangan cyber forensic sebagai keahlian baru penindakan kriminal. Ada kemudahan berusaha di satu sisi, pada sisi yang lain juga ada tidak kriminal yang kian modern. Seperti juga melejitnya angka kejahatan, penindakan kejahatan pun mengikuti perkembangan. Zaman kian modern, dunia kian tua, orang jahat ikut memodernisasi kejahatannya. Di akhirat, rasanya neraka juga ikut berkembang seiring kejahatan. Allah Mahaadil menyertakan hukuman bagi pelanggar-pelanggar hukum-Nya. Wallahu a’lam bish-shawwab.

Sumber :

Fatah S

Berkarier di industri media sejak 2010 dan menjadi penulis buku.