in

K-Pay dan Value Creation Perusahaan

Finance Director PT Insan Cita Mandiri Sejahtera, Fathorrahman Fadli. Dokumentasi pribadi
Finance Director PT Insan Cita Mandiri Sejahtera, Fathorrahman Fadli. Dokumentasi pribadi

Oleh: Fathorrahman Fadli, Finance Director PT Insan Cita Mandiri Sejahtera

Anda mungkin akan merasa asing dengan istilah value creation, bukan? Apalagi, di kalangan kita, KAHMI dan HMI, tidak banyak yang mendalami manajemen bisnis secara keilmuan. Jadi, saya anggap wajar-wajar saja jika Anda tidak berminat membaca artikel kecil yang sedang saya tulis ini. Apalagi, artikel ini saya sambil tulis dengan posisi santai banget; rebahan di atas kasur seraya mengisap rokok kretek Sampoerna kesayangan saya.

Well, well. No problems. Namun, ada baiknya Anda sempatkan membaca agar tidak terlalu awam. Value creation itu sesungguhnya istilah yang penting kita kuasai dan pahami ketika Anda hendak membangun sebuah perusahaan. Mengapa penting? Sebab, jika Anda tidak paham value creation itu apa, maka Anda dipastikan tidak akan pernah mampu membuat perusahaan itu maju dan besar. Padahal, semua orang tahu dan sepakat bahwa ketika Anda membangun perusahaan pasti menginginkan kemajuan itu terjadi, bukan? Kalau tidak ingin perusahaan Anda maju, maka sebaiknya anda segera periksa ke psikolog.

Tetapi, apa sebenarnya value creation itu? Penciptaan nilai (value creation) adalah tentang menghasilkan sesuatu atau membuat sesuatu menjadi lebih berharga. Misalnya, menciptakan nilai bisa dengan menambahkan nilai. Bisnis menciptakan nilai dengan mengubah input menjadi output yang lebih berharga.

Mengapa nilai itu penting? Secara teori, nilai merupakan sebuah perhitungan baik logika atau hanya kata-kata tentang sesuatu yang dilihatnya. Nilai menjadi sangat penting karena dapat membandingkan satu hal dengan hal lainnya pada objek yang sama. Misalnya, nilai atas sebuah produk yang dijual.

Baca Juga :  KAHMI Loteng Apresiasi Peluncuran K-Pay

Semakin tinggi perusahaan mencetak laba, maka semakin besar value yang diberikan kepada Anda pemegang sahamnya. Contoh, perusahaan mencetak laba Rp100 miliar pada tahun ini dan tahun berikutnya perusahaan mencetak laba Rp110 miliar, maka value yang diberikan kepada Anda otomatis juga ikut meningkat. Jadi, nilai perusahaan itu sangat tergantung pada kinerja bisnis dalam perusahaan.

Apakah perusahaan membutuhkan nilai tambah? Oya, jelas dong! Nilai tambah atau value added itu adalah selisih lebih antara harga jual barang dan harga beli bahan baku, bahan penolong, suku cadang, dan jasa yang dipergunakan untuk menghasilkan barang itu. Oleh karena itu, orang-orang yang terlibat dalam bisnis tersebut haruslah mereka yang memahami arti penting kehadirannya dalam perusahaan. Apakah kehadiran orang itu memberikan nilai tambah bagi perusahaan atau hanya beban? Atau justru akan menjadi faktor perusak perusahaan?

Muhammad Gobel, pengusaha bisnis elektronik pertama di Indonesia, sangat menekankan pentingnya kehadiran manusia dalam perusahaan. Mengapa? Karena manusialah yang akan menggerakkan roda perusahaan. Jika manusianya memble, tidak punya passion di dunia usaha, malas-malasan, tidak kreatif, tidak produktif, mudah mengeluh, memperbesar masalah, membuat masalah bukan solusi, maka manusia seperti itu hanya akan menjadi beban perusahaan. Oleh karena itu, orang semacam Prijono Sugiarto, CEO Astra Internasional, pada era disrupsi teknologi selalu mencari karyawan yang betul-betul passionate, berbakat di dunia bisnis. Untuk apa? Agar kehadiran karyawan itu tidak lagi menjadi masalah, tetapi ikut memberikan nilai tambah yang signifikan bagi perusahaan.

Baca Juga :  Manuskrip Kuno tentang Perang Akhir Zaman (Bagian 1)

Bagaimana agar nilai perusahaan itu meningkat dari waktu ke waktu? Untuk memaksimalkan nilai pemegang saham, maka seorang manajer harus merumuskan dan menerapkan strategi yang memungkinkan perusahaan mereka untuk mengungguli pesaing dan memberikan keunggulan kompetitif.

Pentingnya Costumer Value
Pakar marketing, yaitu Philip T Kotler dan Keller, mengajari kita cara membangun nilai pelanggan adalah dengan meningkatkan manfaat produk, pelayanan, staf, dan citra yang ditawarkan serta mengurangi satu jenis biaya atau lebih. Walaupun untuk mencapai semuanya itu, tentulah membutuhkan proses dan jangan lupa bahwa keseluruhan proses itu hendaknya diarahkan pada tujuan yang sudah kita rumuskan sejak awal.

Memulai bisnis atau usaha bukanlah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas, kemampuan mengembangkan inisiatif, selalu membangun inovasi, dilaksanakan penuh disiplin, tepat waktu, dan berpikir lateral. Bisnis sedianya dipelihara agar tetap berada pada ruang yang kondusif bagi terciptanya iklim bisnis. Hal-hal yang kemudian menjadi hambatan harus segera dipecahkan sedari dini.

Masa Depan dan Tantangan K-Pay
K-Pay sebagai model bisnis tentu akan berhadapan dengan tantangan yang sangat besar. Di hadapan mata sudah ada sejumlah pesaing yang sangat eksis dengan gigantisme modal yang membuat nyali kita keyok sebelum bertanding. Rata-rata kekuatan dan kapasitas modal mereka dalam hitungan triliun. Belum dukungan teknologi informasi yang setiap hari mereka update guna penyempurnaan layanan.

Baca Juga :  K-Pay, Kelas Menengah, dan Revolusi Digital

Lihatlah perusahaan-perusahaan startup, misalnya Sophee, OVO, Lazada, Tokopedia, Bukalapak. Semua perusahaan itu bukanlah milik pengusaha Indonesia. Saham mereka asalnya dari asing. Mereka semua bersaing meningkatkan nilai perusahaan masing-masing dengan bertaruh kecanggihan strategi dan kekuatan kapital. Kapitalis-kapitalis teknologi bersimbiosis dengan kapitalis-kapitalis modal untuk memangsa pasar Indonesia.

Mereka semua berselancar di pasar yang sama sekali floating, cair, non-ideologis, it’s not captive market. Mereka berlomba-lomba melakukan value creation dengan membakar uang mereka demi citra perusahaan di mata publik Indonesia yang mayoritas muslim. Berbagai fasilitas belanja dan jutaan jenis aneka barang mereka sajikan di marketplace mereka.

Mereka akan terus mencari momentum yang tepat untuk kemudian meningkatkan nilai perusahaan. Dengan demikian, akan banyak investor yang datang untuk membeli saham-saham mereka yang nilainya sudah melangit. Mereka lalu mendapatkan fresh money untuk bertarung memenangkan pasar selanjutnya.

Kenyataan dan fakta-fakta bisnis itulah yang ada di hadapan kita semua selaku manajemen K-Pay. Namun, kami tidak akan gentar dengan itu semua. Era disrupsi memungkinkan kami tetap bisa bersaing dengan melihat bahwa bisnis itu bukan hanya mengandalkan modal besar, tetapi kami memiliki senjata pemungkas lain yang tidak dimiliki oleh mereka dan itu akan kami jadikan daya ungkit sebagai modal yang unik guna memenangkan persaingan bisnis. Untuk dukungan dan doa dari seluruh warga KAHMI dan HMI adalah mutlak adanya. Ayo, download K-Pay dan bertransaksilah.

Sumber :

Fatah S

Berkarier di industri media sejak 2010 dan menjadi penulis buku.