in

Betawi Satu dalam Refleksi

Pengamat politik UMJ, Usni Hasanudin. Dokumentasi pribadi
Pengamat politik UMJ, Usni Hasanudin. Dokumentasi pribadi

Oleh Usni Hasanudin, Wakil Departemen Pertahanan MN KAHMI/Kaprodi Ilmu Politik FISIP UMJ

Pengujung tahun, 26 Desember 2021, Tasyakuran Anak Betawi Kembali ke DPD RI menjadi tema yang diangkat dalam selamatan Prof. Dailami Firdaus atau akrab disapa Bang Ferdy. Kembalinya Bang Ferdy menjadi Anggota DPD RI menggantikan mendiang Sabam Sirait menambah deretan panjang tokoh Betawi dalam lembaga negara. Kehadiran tokoh dan pimpinan ormas Betawi menjadi bagian yang tidak luput dari pandangan bahkan banyak juga artis dan komedian duduk dengan corak Merah Putih.

Pantun sebagai khas budaya Betawi turut ambil bagian. Bang Becky, sosok yang kini menakhodai Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), dalam pantunnya, “Burung malam si burung hantu, masuk ke hutan mencari makan. Kalau Betawi bisa bersatu, siapa juga enggak bisa ada yang ngalahin.”

Pantun itu secara tersurat membawa pada perjalan sejarah masyarakat Betawi bahwa posisi masyarakat Betawi sebagai masyarakat lokal di Provinsi DKI Jakarta yang juga sebagai Ibu Kota Negara mengalami “pasang surut” paralel dengan perubahan yang terjadi. Mayarakat Betawi yang pada rentang waktu tertentu mengalami pembatasan dari struktur yang ada berubah mengalami pemberdayaan pada kurun waktu yang lain. Begitupun sebaliknya, masyarakat Betawi ada yang semula mengalami pemberdayaan berubah menjadi mengalami pembatasan dari struktur.

Baca Juga :  Kisah Ahmad Sadali, Pencipta Lambang HMI (Bagian 1)

Perubahan memang tidak dapat dihindari. Tuntutan penyesuaian harus dilakukan, tetapi nilai sebagai warisan leluhur harus terjaga. Betawi identik dengan nilai keislaman bahkan Jatiwaringin meninggalkan tapak seorang ulama Betawi KH Abdullah Syafi’i dengan putrinya ustazah Tuty Alawiiyah dan Bang Ferdy adalah putra sekaligus cucu dari ulama Betawi tersebut.

Ukhuwah
Masyarakat Betawi kini dihadapi dengan pesatnya pembangunan, kompleksitas kehidupan sosiologis, persingungan banyak budaya (multiculturalism), serta banyaknya kepentingan seolah memaksa masyarakat Betawi mampu bertahan tanpa harus menyingkirkan bahkan harus sinergi dan mengambil manfaat simbiosis mutualisme di tengah heterogenitas warga Jakarta.

Portofolio masyarakat Betawi adalah silaturahmi. Silaturahmi menjadi modal utama masyarakat Betawi. Mengutip apa yang disampaikan Bang Ferdy, silaturahmi memiliki dua keutamaan, yaitu memperpanjang usia dan dimudahkan rezeki. Memaknai rezeki bukan saja dalam bentuk materiil, tetapi juga spiritual ketika berkumpul, berorganisasi bahkan bertemu sapa, yang sebelumnya ada perbedaan akan mudah dipersamakan. Bagi yang berkonflik akan mudah berdamai bahkan yang sebelumnya terpecah melalui silaturahmi akan kembali bersatu padu. Rezeki terbesar ketika semua tersampaikan, terkomunikasikan, dan terselesaikan melalui silaturahmi.

Sebagai modal sosial masyarakat Betawi, silaturahmi juga tidak berlebihan kalau saya katakan bentuk state in society. Melalui silaturahmi, masyarakat Betawi digambarkan sebagai masyarakat campuran berbagai macam masyarakat dan organisasi sosial daripada sekadar struktur dikotomis. Berbagai formasi, termasuk gagasan membangun Jakarta, tidak dapat dilakukan secara tunggal, perlu berkolaborasi atau tandem untuk menawarkan individu dan organisasi sebagai bentuk strategi bertahan dan strategi mobilitas ke atas.

Baca Juga :  Membela Konstitusi

Penggunaan simbol dan nilai kebetawian pada kehidupan sosial harus dikembangkan. Simbol dan nilai-nilai secara pasti akan memperkuat bentuk kontrol sosial dalam masyarakat Jakarta atau yang mengusulkan bentuk-bentuk baru dari kehidupan sosial. Memang perjuangan ini sedang berlangsung. Masyarakat Betawi bukan merupakan bentuk statis, tetapi terus menerus mencari bentuk melalui perjuangan kontrol sosial.

Efektivitas kontrol sosial dengan silaturahmi dapat termaksimalkan ketika masyarakat Betawi mampu melihat bahwa fenomena yang merefleksikan strong state dibandingkan strong society. Masyarakat Betawi mampu melihat dan menunjukkan perannya sebagai predatory broker politik yang memiliki kontrol monopolistik terhadap kekuatan koersif (tekanan) dan sumber daya ekonomi dalam wilayah teritorial DKI Jakarta. Masyarakat Betawi harus mampu bergerak dalam bayangan pemerintahan daerah, birokrasi, partai politik, dan sosial masyarakat, baik kolaborasi atau persekutuan bentuknya.

Oleh karenanya, ukhuwah menjadi begitu penting bagi masyarakat Betawi. Fenomena terpecahnya organisasi Bamus Betawi atau Forkabi serta organisasi kebetawian harus kembali dipersatukan, dirajut dalam silaturahmi menuju Betawi satu.

Equality
Saya coba mengawali dengan pantun, “Memasuki tahun yang baru, meninggalkan tahun yang lalu. Perpecahan jangan sampai terbawa, mari kembali duduk bersama”. Saya jadi teringat apa yang disampaikan oleh pembawa acara, “Kalau kita terpecah, orang lain tertawa dan ambil kesempatan.”

Baca Juga :  Tak Ada Alasan, Penundaan Pemilu Akan Menjadi Skandal Politik dan Catatan Kelam Penganjurnya

Adalah Prof. Agus Suradika yang pada kesempatan sambutannya menyatakan, secara sosiologis kemasyarakatan, masyarakat Betawi tersebar bahkan secara organisasi mengalami perpecahan. Pernyataan ini akan sulit menempatkan masyarakat Betawi memiliki kesejajaran secara politik, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan.

Pada konteks inilah perlu adanya perubahan cara pandang masyarakat Betawi yang secara teoritis disebut political equality. Setidaknya menyangkut tiga macam hubungan, yaitu antarpemerintah (intergovernmental relation), antara negara, dan masyarakat (state society relation), dan antara masyarakat dan masyarakat (society-society relation).

Masyarakat Betawi secara hubungan antarpemerintah meliputi kesetaraan antarlevel pemerintahan, baik secara vertikal maupun horizontal, dalam kewenangan mengatur dan mengurus. Penyelenggaraan pemerintahan daerah akan semakin kuat jika ada kesetaraan antara kewenangan dengan sumber keuangan yang dimiliki, kejelasan kewenangan antarberbagai tingkat pemerintahan, dan sebagainya.

Kemudian, masyarakat Betawi juga harus membangun hubungan antarnegara dan masyarakat merupakan refleksi dari daya tawar masyarakat Betawi terhadap berbagai keputusan yang akan diambil lembaga pemerintahan. Hal ini harus dilakukan yang kemudian akan menjadi dasar bagi masyarakat Betawi mengatur urusan yang terkait dengan warga Jakarta.

Sumber :

Fatah S

Berkarier di industri media sejak 2010 dan menjadi penulis buku.