in

Puasa dan Optimalisasi Potensi Diri

Koordinator Presidium MD KAHMI Kabupaten Tangerang, Moh. Bahri. Dokumentasi pribadi
Koordinator Presidium MD KAHMI Kabupaten Tangerang, Moh. Bahri. Dokumentasi pribadi

Oleh Moh. Bahri, Anggota DPRD Banten asal Fraksi Partai Gerindra dan Koordinator Presidium MD KAHMI Kabupaten Tangerang

Per definisi, asal-usul istilah puasa berkaitan dengan sejarah masa lalu Nusantara, yaitu saat masih digunakan bahasa Sankskerta. Beberapa pakar bahasa menyebut, istilah puasa beradal dari dua suku kata, upa dan vasa, yang berarti mendekatkan diri kepada Tuhan (upwasa). Lalu, lama kelamaan istilah ini mengalami adaptasi menjadi kata pasa (menahan diri). Dan kini menjadi kata puasa (menahan diri untuk tidak makan dan minum dengan beberapa syarat tertentu). Sementara, akar kata aktivitas berpuasa dalam konsep Islam berasal dari kata syaum atau siyam dengan makna yang sangat spesifik, yakni menahan diri dari makan dan minum serta tidak melanggar aturan syariah dari sebelum matahari terbit hingga tenggelam.

Umum diketahui, dalam menjalankan aktivitas puasa, kita tak hanya diwajibkan mengendalikan hasrat jasmani dan fisik, tetapi juga mengelola hati (batin). Dalam konteks tertentu, justru menahan nafsu batiniah. Ini yang lebih berat, seperti tidak mudah meledak dan marah, menghindari kata-kata kotor, menjauhkan pikiran dari syak wasangka, tidak iri hati, serta mampu mempraktikkan budi pekerti (ahlak) terbaik. Dengan kata lain, jika ukuran puasa hanyalah sekadar tidak makan dan minum, maka tak ada keistimewaan apa pun dari puasa yang diwajibkan kepada umat Islam karena di kalangan lain pun, praktik seperti ini terjadi. Bahkan, di dunia klenik, magis, dan perdukunan sekali pun, “larangan tak makan tak minum” biasa dilakukan.

Baca Juga :  HMI dan UGM

Dalam Islam, kekuatan psikologis yang terjadi dalam berpuasa terasa istimewa. Misalnya, menurut pakar ilmu tafsir Al-Qur’an, Quraish Shihab, bahwa ada makna kebahagiaan, solidaritas, kebersamaan, empati, dan kasih sayang antarsesama saat melaksanakan puasa. Apa pun kedudukan dan seberapa besar kekayaan seseorang, akan merasakan haus dan lapar selama berpuasa. Dia akan tersadar betapa lemah dirinya. Menjadi selalu mengingat Allah serta mensyukuri keadaan. Lalu, saat berbuka puasa, maka lahirlah kebahagiaan. Bahagia secara jasmani dan ruhani.

Momen berbuka puasa ini yang hampir sempurna melahirkan segala kebaikan dan keberkahan. Menurut Quraish Shihab, kala berbuka, raga dan fisik tersegarkan, terpuaskan. Begitu juga hati dan rohani, merasa puas. Belum lagi keberkahan karena sudah berhasil melewati ujian dan godaan. Allah Swt juga mencurahkan rahmat-Nya di saat ini. Maka, benarlah sebuah hadis yang menyebut, salah satu waktu mustajab dalam berdoa adalah ketika berpuasa. Titik atau pusat kebaikan dalam puasa juga terletak pada aspek empati dan rasa solidaritas. Orang kaya akan merasakan betapa sengsara saat tak bisa makan dan minum. Hatinya akan tergetar. Lalu, bermurah hati seraya mengulurkan sedekah atau berbagi rezeki kepada sesama, semisal membagi hidangan atau uang untuk buka puasa.

Baca Juga :  Sambut Ramadan, M Fauzi Serukan Konsolidasi Umat Bangsa

Di Tanah Air, selama Ramadhan, marak fenomena berbagi rezeki, santunan, bantuan atas segala kegiatan yang tergolong sedekah dari pihak yang memiliki kelebihan kepada saudaranya yang berkekurangan. Ini salah satu indikasi bahwa makna empati dalam berpuasa di bulan suci sudah terpatri. Bantuan atau berbagi ini tak hanya jelang buka puasa, tetapi saat siang hari lebih ringan untuk bersedekah bahkan juga menjelang sahur. Sementara kalangan bawah, merasakan hadirnya solidaritas antarsesama. Inilah salah satu bentuk keberkahan Ramadan. Sementara, dari sisi pribadi dan personality, puasa sebenarnya mengokohkan mental, keyakinan, kesabaran, daya juang, jujur, disiplin, dan fokus pada tujuan. Poin-poin tersebut adalah mahadaya penting dalam membangkitkan kemampuan diri.

Baca Juga :  Harry Azhar Azis, Keakraban Tanpa Sekat

Dalam perjuangan nyata, baik kompetisi mencari nafkah, membangun usaha, merintis karier, atau bahkan membangun keluarga, mentalitas yang terasah selama berpuasa menjadi faktor penentu. Hanya orang yang kuat dalam kesabaran, kejujuran, dan disiplin yang akan mampu keluar atau menyelesaikan masalah. Hanya pribadi yang yakin, fokus pada tujuan yang ingin dicapai yang bisa menjadi pemenang dalam kehidupan. Dan hanya orang yang memiliki empati tinggi, solider, penuh kasih sayang yang bisa menggalang kerja sama serta solidaritas antarsesama. Insyaallah, puasa Ramadhan kali ini membawa kita kepada upaya memperkuat potensi diri untuk menjadi pemenang kehidupan.

Kalam pemungkas, saya dan keluarga mengucapkan, selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1443 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin.

Sumber :

Fatah S

Berkarier di industri media sejak 2010 dan menjadi penulis buku.